Gianyar(Manggala)-Bambang Pranoto tak menyangka produknya “Minyak Kutus-Kutus Tamba Waras” bisa sebesar sekarang ini. Padahal awalnya diproduksi untuk keluarganya untuk kebutuhan menyembuhkan sakit lumpuh yang diderita, puluhan tahun silam. Karena tidak kunjung sembuh, kendati sudah bolak balik ke medis, dia berpikiran harus membuat minyak. “ Awalnya kami produksi sebagai produk rumah tangga, tak disangka khasiatnya dipercaya konsumen, kini sudah dipasarkan ke manca nnegara,” ujarnya, di Resto Mango Lango, Banjar Pacung, Keurahan Bitera, Gianyar, Selasa(5/12).

Bambang Pranoto Pemilik PT. Kutus-Kutus Tamba Waras Indonesia
Didampingi isterinya Rifa, dia menceritakan, awal Minyak Kutus-Kutus Tamba Waras dipasarkan diproduksi hanya 500 botol per bulan. Namun karena permintaan semakin membesar, mau tidak mau harus melakukan meningkatkan produksi, dengan membentuk PT, dan segala ijin yang dibutuhkan. Dan dia bersyukur kini produksi sudah mencapai 300 -500 ribu per bulan. Pemasaran tidak hanya di Bali, tapi ke seluruh Indonesia bahkan manca negara.
Ini tentu tidak terlepas dari dukungan karyawan dan konsumen. Konsumen Minyak Kutus-Kutus terpantau kesehatannya. Sementara karyawan selalu menjadi patner yang selalu menjadi perhatian perusahan. Bahkan saat terjadi pandemic Covid-19, PT. Kutus-Kutus Tamba Waras Indonesia, tidak mem-PHK karyawan. Karyawan bekerja seperti biasa dengan pendapatan yang normal. “Saat pandemi Covid-19, Minyak Kutus-Kutus laku keras. Hampir 2 juta botol minyak lalu. Dan ini karena dipercaya minyak Kutus-Kutus mampu mencegah paparan Covid-19. Tak seorang pun konsumen Kutus-Kutus yang terinfeksi Covid-19,” tuturnya.
Tidak itu saja, Kutus-Kutus juga memberdayakan para petani yang menjadi suplayer bahan baku. Seperti petani jahe, kunir dan bahan jamu-jamuan. “Suplayer kami yang menyediakan bunga kenaga dan cempaka sekarang ini sudah cukup sejahtera. Sebelumnya hanya punya sepeda motor, kini sudah memiliki mobil,” ungkapnya.
Dia pun mengajak petani untuk membantu menanam bahan baku yang dibutuhkan. Terutama jenis tanaman jamu-jamuan, yang sekarang banyak dipasok dari luar Bali. “Kalau di Bali sangat langka. Makanya kami beli di luar Bali,”cetusnya.
Menurut personel Band KPL(Kelompok Perajin Lagu) ini, Kutus-Kutus bermakna filosofis rezeki terus mengalir, hal ini dibuktikan dengan angka 88 (Kutus-Kutus), lancar pemasaran dan semakin besar.
Bapak yang dekat dengan personel Group Musik SWAMI ini menceritakan, kalau Minyak Kutus-Kutus Tamba Waras ini diproduksi bukan semata mencari keuntungan materi semata. Namun, ada misi nasionalisme. Dia menyadari, kini Indonesia dibanjiri berbagai produk minyak, kosmetik dan produk lainnya dari negara luar. Padahal, kita punya potensi bahan baku dan pasar yang besar. Ungkapan mencintai produk dalam negeri hanya selogan belaka. Tapi Kutus-Kutus ingin mewujudnyatakan kecitaan terhadap produk dalam negeri. Tentu dengan kualitas yang lebih unggul dari produk luar. “Kita sesungguhnya sudah dijajah. Mari Bung Rebut kembali,” ajaknya.
Di tahun ke 10, PT. Kutus-Kutus Tamba Waras Indonesia, mengembangkn bisnis ke sektor lain. Bisnis vila, hotel, restoran, dan produk juga bertambah. “Kami juga sudah mampu beli sebuh Castile seluas 10 ha di Amsterdam, Belanda,” pungasnya.(wir).

Leave a Reply