Denpasar (Manggala Online) – Empat seniman alumni ISI Denpasar menggelar pameran di Griya Santrian Gallery di Sanur, bertajuk: “Vernal Artistic”, yang akan berlangsung dari 08 Mei 2026 sampai 26 Juni 2026. Pameran ini menampilkan karya Edy Asparanggi, I Gede Sugiada, 1.B. Suryantara, Dewa Gd Agung dengan Kurator Made Susanta Dwitanaya, dan dibuka secara resmi oleh Prof. Dr. I Wayan Kun Adnyana yang saat ini menjabat sebagai Rektor ISI Bali..

Kurator Made Susanta Dwitanaya mengatakan, pameran ini memvisualisasikan suasana pergantian musim, dari musim dingin ke musim semi.
Dalam pergantian musim ini, terjadi proses transformasi hingga spirit baru. Perubahan terjadi dari segi warna, hangat, ceria, namun dinamis.
“Saya amati terjadi transformasi dan perubahan. Namun benang merah bisa lihat,” ujarnya.
Dalam sambutannya Owner Griya Santrian, Ida Bagus Gede Agung Sidharta Putra menyampaikan terima kasih atas kepercayaan para seniman berpameran di Santrian Gallery. “Para seniman memberikan warna seni, dan kedepannya agar selalu tetap berkarya” ungkapnya.
Dikatakan, pameran ini akan menjadi objek bagi para wisatawan mancanegara yang tengah menginap di hotel Santrian, Sanur Bali.
“Lebih 300 tamu menginap di sini, dan mereka akan melihat, menikmati, dan semoga mereka membeli,” harapnya.
Adapun “Vernal Artistic” adalah musim semi artistik. Musim ketika garis meliuk dinamis, ketika bidang dan ruang menolak stagnan, komposisi terkonfigurasi dinamis, ketika warna menemukan auranya kembali. Para perupa yang dulu menyelami kesunyian itu muncul kembali seperti akar yang menembus batu, tunas yang membelah biji. Mereka melukis bukan untuk menggambarkan tapi untuk menghidupkan, mereka menumpahkan rupa untuk memaknali waktu dan diri yang telah difermentasi oleh kesabaran dan juga pengalaman-pengalaman diri. Setiap torehan garis, sapuan-sapuan kuas, kompossi objek dan ruang adalah denyut perkecambahan baru yang bergerak menuju cahaya, seperti tunas-tunas musim semi yang menuju cahaya, menumbuhkan batang cabang ranting, daun, memekarkan bunga dan buah yang segar.
Selain itu, “Vernal Artistic” adalah gerak hidup yang diterjemahkan ke dalam warna. la adalah saat ketika kesunyian berfotosintesis menjadi rupa, ketika dalam bertransformasi menjadi ritme, ketika yang beku akhirnya meleleh menjadi komposisi yang hidup. Setiap karya di sini seperti tubuh musim semi itu sendiri: menumbuhkan tunas, menegakkan batang. membuka mata, menyerap cahaya, dan menyalurkannya ke segala arah
Karya-karya keempat perupa ini menampilkan hasil penghayatan artistik mereka. Putu Edi Asparangi menghadirkan nuansa surealistik dengan pilihan warna-warna yang hangat, berbagai mahkluk mitologis yang berakar dari kebudayaan visual Bali oleh Edi dieksplorasi ikonografi visualnya menjadi bahasa yang lebih personal.

Kekhasan warna yang cenderung hangat, pengolahan bentuk serta komposisi yang dinamis tampak pada karya-karya terbaru I Gede Sugiada “Anduk”. Sejak beberapa tahun terakhir karya-karya Sugiada memperlihatkan nuansa warna yang lebih bright ketimbang karya-karya pada periode sebelumnya yang cenderung mengeksplore warna yang lebih temaram.
Kekuatan garis dan bentuk khas seni lukis Bali serta teknik pewarnaan sigar warna dieksplorasi sedemikian rupa melalui karya-karya lda Bagus Suryantara “Cooh”. Berbagal figur yang berangkat dari eksplorasi ikonografi rupa wayang dihadirkan dalam narasi yang lebih personal, tidak lagi terikat dengan narasi pada epos tertentu yang menjadi ciri khas karya-karya seni lukis Bali. Inilah nilai artistik yang dapat kita baca pada karya-karya mutakhir Ida Bagus Suryantara..
Dewa Gede Agung dalam pameran ini menghadirkan eksplorasi visual terbarunya yang berangkat dari pengolahan elemen garis, lalu bergerak menuju pengolahan atas unsur-unsur ornamentik. Dewa memberikan pernyataan artistik atas karya-karya dan proses kreatifnya, ia memandang karyanya sebagai metafora dari siklus hidup sebuah tumbuhan yang berangkat dari biji yang tertanam di tanah sebagai gagasan, lalu berkecambah yakni elemen garis, kecambah ini terus bertumbuh secara dinamis, menjadi sulur sulur atau yang dalam istilah Bali disebut utir. (adi)

Leave a Reply