Denpasar (Manggala OnlIne) – Kelompok seniman sekaligus pendidik yang tergabung dalam Soko Guru menggelar pameran lukisan bertajuk “ Tutur Ayu” di Griye Santrian Art Gallery, Sanur, Denpasar , mulai 6 Maret hingga 30 April 2026. Pameran yang dibuka Putri Suastini Koster ini menampilkan 18 karya seni dari Ketut Marra, I Wayan Santrayana, dan I Gede Budiartha. Ketiga seniman tersebut telah memasuki purna tugas sebagai pendidik, namun tetap eksis berkarya dalam mengemban tugas sebagai pendidik tetap terjaga.

Sesuai dengan makna Soko Guru sebagai tiang penyangga utama, istilah ini melambangkan peran guru sebagai fondasi pengetahuan: penutur nilai, penjaga rasa, sekaligus pengemban kebijaksanaan melalui karya seni. Soko Guru menjadi wadah bersama bagi ketiga seniman ini dalam pengabdian, menjaga nilai pengetahuan dan kebijaksanaan yang berakar kuat pada budaya.
.TUTUR AYU sebagai judul pameran bermakna sebagai pernyataan artistik yang berakar pada kesadaran bahwa seni adalah bahasa yang tak pernah pensiun. Para guru seni telah mengabdikan sebagian besar hidupnya pada misi mengajarkan dan mengembangkan pengetahuan bagi setiap generasi. Terlebih dalam konteks Bali sebagai wilayah yang kuat dengan warisan nilai, pengetahuan, hingga praktik berkesenian, yang di dalamnya terkandung pesan simbolik dan filosofis, Tutur Ayu bermakna bahwa setiap karya yang dihadirkan berupaya membawa pesan dan petuah sarat moralitas serta kebijaksanaan bagi generasi hari ini.

Putu Suastini Koster (paling kiri) didampingi para pelukis memperhatikan salah satu lukisan karya seniman yang tergabung dalam Kelompok Soko Guru.
I Ketut Marra telah lama dikenal sebagai pendidik yang konsisten dalam berkarya. Berbagai aktivitas kesenian dijalankannya, mulai dari seni lukis hingga seni grafis yang dahulu dikenal dengan istilah reklame. Capaian teknis dan keterampilannya menampakkan kematangan artistik serta kualitas estetik yang tinggi. Hal inilah yang membuatnya disegani oleh para muridnya. Kemampuannya menjelajah berbagai material, media, dan teknik menjadikan karya-karyanya berkarakter khas. Elemen-elemen rupa seperti garis, warna, tekstur, hingga komposisi membentuk struktur visual yang kuat. Tema-tema karyanya merepresentasikan alam dan budaya Bali, diolah melalui kekuatan interpretasi terhadap bentuk dan suasana. Karya-karya Ketut Mara bukan sekadar salinan realitas, melainkan menghadirkan aura dan kekuatan estetik yang matang dalam konteks seni lukis, disamping itu pada setiap karya yang dihadirkanya terselip refleksi kritis tentang kehidupan sosial budaya hingga pada persoalan bagaimana diri ditengah hidup yang penuh godaan.

Para Pelukis yang tergabung dalam Kelompok Soko Guru .
Santrayana dikenal dengan karakter karya yang menampilkan figur dan objek yang deformatis. Kecenderungan ini telah hadir sejak awal kariernya sebagai perupa, berangkat dari pembacaan kritis terhadap problematika sosial dan budaya masyarakat Bali. Bentuk-bentuk terdeformasi menjadi bahasa visual yang khas, menghadirkan figur dan objek yang sarat ekspresi.Tema-tema karyanya merepresentasikan budaya Bali, namun di baliknya terkandung pesan kritis dan reflektif mengenai relasi manusia dengan alam, dinamika sosial-budaya, hingga spiritualitas. Karya-karyanya berbicara tentang bagaimana manusia merawat ekologi, menghadapi perubahan sosial, serta merenungkan kondisi bangsa dan dunia.
I Gede Budiartha menampilkan karya-karya dengan kecenderungan abstraksi dan ekspresi artistik yang kuat. Meskipun secara komposisional tampak abstrak, di dalamnya tetap hadir representasi objek yang dapat dikenali, meskipun terkadang terpiuh atau luruh dalam ekspresi warna, gestural, dan pengolahan garis. Melalui karya-karyanya Budiartha menghadirkan tema-tema yang dalam, menyoal soal rasa dan berbagai dinamikanya. Rasa sebagai sebuah kualitas yang menandai kemanusiaan kita selain pikiran dan jiwa. Melalui rasa manusia mendapatkan kepekaanya dalam menyusuri ceruk ceruk terdalam kehidupan ini. Melalui karya-karyanya segenap rasa itu luruh dalam penghayan visual yang membentuk karakter lukisanya.
Karya-karya dalam pameran ini bukan semata objek estetik yang mengandung nilai artistik, melainkan juga ruang perenungan bagi kita sebagai pewaris kebudayaan Bali yang terus mengarungi zaman. Di tengah arus perubahan, Tutur Ayu menjadi pengingat bahwa kebijaksanaan tidak lahir dari kebisingan, melainkan dari ketekunan merawat nilai. Melalui tangan-tangan para guru inilah, tutur itu tetap ayu, tetap hidup, dan tetap menyala bagi generasi yang akan datang.
Melalui pameran ini pula kita dapat melihat bagaimana semangat dan gairah ketiga seniman ini dalam menjalankan kehidupannya sebagai seorang perupa yang berlatar belakang sebagai pendidik. Kesadaran pada swadarma atau kewajiban mendidik mereka sadari tak hanya berhenti semasa menjalankan tugas di institusi. (adi).

Leave a Reply